Berita Terkini

Bupati Kaur Hadiri Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 di Palembang

Palembang – Meeja Metro Update | Bupati Kaur, Gusril Puasi, S.Sos., M.AP., didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Kaur, Dr. Nasrul Rahman, menghadiri Acara Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026 yang digelar di Kota Palembang, Sabtu (25/4/2026).Kegiatan bergengsi tersebut mempertemukan para kepala daerah dari seluruh Indonesia dalam rangka pemberian penghargaan kepada pemerintah daerah yang dinilai berhasil dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, serta pelayanan publik yang inovatif dan berdaya saing.Acara ini turut dihadiri langsung oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya. Selain itu, kegiatan juga diikuti oleh seluruh kepala daerah, sekretaris daerah se-Sumatera, serta sejumlah pejabat tinggi lainnya.Kehadiran Bupati Kaur bersama Sekda menunjukkan komitmen Pemerintah Kabupaten Kaur dalam mendukung peningkatan kinerja pemerintahan daerah sekaligus memperkuat sinergi antarwilayah. Momentum ini juga dimanfaatkan sebagai sarana bertukar pengalaman, gagasan, dan inovasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.Dalam kesempatan tersebut, para peserta mendapat apresiasi atas capaian kinerja daerah masing-masing, sekaligus dorongan dari pemerintah pusat untuk terus berinovasi menghadapi tantangan pembangunan ke depan. Kementerian Dalam Negeri menegaskan pentingnya kolaborasi, integritas, dan tata kelola pemerintahan yang baik dalam mewujudkan pelayanan publik yang optimal.Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Kaur diharapkan semakin termotivasi untuk meningkatkan prestasi daerah dan menghadirkan pelayanan publik yang lebih baik, cepat, dan responsif bagi masyarakat. Rilis (Official Bupati Kaur)

calendar_today 26 April 2026 person dimas arya
News Image
Budaya

Dunia Azam, Kritik Bukan Evaluasi: Menjaga Ketajaman Kritik di Tengah Sinkretisme

Bengkulu - Meeja Metro Update | Di negeri ini, kritik tak pernah kehabisan bahan perbincangan. Bukan isi kritik yang diperdebatkan, bukan pula alasan mengapa kritik dilontarkan, melainkan selalu cara mengkritiknya. Padahal, di era ketika setiap orang bisa berbicara—secara mandiri maupun dibantu kecerdasan buatan—pertanyaan tentang “bagaimana cara mengkritik” seharusnya sudah tak lagi menjadi perdebatan sengit. Namun, justru di sinilah perdebatan itu semakin panas.Pemicu terbaru adalah Mens Rea-nya Pandji Pragiwaksono, kasus kekerasan biadab terhadap aktivis dan influencer, serta polemik seputar penerapan KUHP dan KUHAP baru. Tanpa ikut latah, izinkan saya mencermati dari sudut yang berbeda: KARAKTER KRITIK dan LOGIKA KRITIK. Tujuannya sederhana—agar kita tidak terjebak bias perspektif yang sering menyusup melalui metode atau tuntutan cara mengkritik.~Karakter Kritik~Kritik sejati harus memiliki karakter yang utuh dan tajam: ia membuat yang dikritik tidak nyaman—sepenuhnya(!). Tidak ada sedikit pun ruang kenyamanan di dalamnya. Ketidaknyamanan itu bisa berwujud apa saja: sindiran halus, ejekan terbuka, atau dalam bentuk ekstrem, penggulingan rezim.Ketika kritik disyaratkan harus “sopan”, “beretika”, atau “disertai solusi”, karakter kritik justru dihancurkan. Begitu pula dengan pernyataan yang sering terdengar: “Jangan kritik orangnya, tapi kritiklah kebijakannya saja.” Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar—malah sering menjadi bentuk pelemahan lain. Penguasa atau figur kekuasaan bukan entitas abstrak; kesalahan mereka sering mewujud dalam perilaku pribadi: kebiasaan berbohong, tindakan sewenang-wenang, penculikan, korupsi personal, atau penyalahgunaan wewenang yang tak terpisah dari karakter individu. Memisahkan “orang” dari “kebijakan” justru memberi perlindungan buatan, seolah perilaku buruk bisa dilepaskan dari tanggung jawab pribadi. Kritik sejati harus menyasar segalanya—kebijakan sekaligus perilaku—karena itulah yang membuatnya tajam dan efektif.Ia menjadi kritik yang tak berkarakter, kehilangan wibawa, dan jatuh ke lubang busuk. Martabatnya tergerus. Inilah yang saya sebut SINKRETISME KRITIK: kritik yang dicampur aduk dengan unsur lain selain ketidaknyamanan—kesopanan, solusi, basa-basi, pemisahan buatan antara orang dan kebijakan, atau niat baik—sehingga kehilangan esensinya.Sinkretisme ini biasanya muncul sebagai mekanisme defensif dari pihak yang dikritik. Mereka berupaya melemahkan kritik agar tak terlalu menyengat. Lama-kelamaan, upaya itu terbalik menjadi “kebenaran” baru: kritik yang “baik” adalah yang sopan, solutif, dan hanya menyasar kebijakan abstrak, sedangkan kritik yang tajam dan mengganggu—termasuk terhadap perilaku pribadi—dianggap tak berkarakter. Padahal sebaliknya: kritik yang sejati justru adalah yang tidak memberi kenyamanan sama sekali.~Logika Kritik~Kritik tidak lahir dari ruang hampa. Ia selalu muncul sebagai respons terhadap sesuatu yang tidak normal atau menyimpang. Jika segala sesuatu berjalan di jalur yang benar, kritik tak akan timbul. Karena itu, memvonis kritikus sebagai “pengganggu”, “perusak”, atau “tidak bertanggung jawab” adalah kesalahan logika mendasar.Kritik juga bukan evaluasi, meskipun keduanya saling terkait dalam proses perubahan sosial. Evaluasi bertujuan menyempurnakan apa yang sudah ada—maka di situ ada ruang untuk kesopanan, dialog, dan solusi. Kritik, sebaliknya, bertujuan menghancurkan kesalahan atau ketidakadilan yang ada. Di sinilah tak boleh ada kenyamanan. Tugas kritik adalah membongkar, mengoyak, dan menyingkap—sesuai dengan karakter aslinya.Dari logika ini, kita bisa menyimpulkan bahwa kritik yang konstruktif adalah kontradiksi dalam istilah—tidak logis. Kritik yang konstruktif sebenarnya adalah evaluasi yang menyamar. Ketika kritik telah menyelesaikan tugasnya—yaitu menghancurkan kesalahan—barulah evaluasi turun tangan dengan lembut untuk membangun kembali dari puing-puing yang tersisa.~Pemisahan yang Tegas~Kritik dan evaluasi adalah dua proses yang saling terkait tapi terpisah secara esensial dalam tujuan dan sikapnya. Kritik sejati bersifat destruktif: ia muncul hanya ketika ada yang salah, bertujuan menghancurkan kesalahan itu sepenuhnya, dan tidak meninggalkan ruang kenyamanan sama sekali. Jika sebuah pernyataan sudah menyertakan solusi, kesopanan, atau niat perbaikan, maka itu bukan lagi kritik murni—melainkan evaluasi.Evaluasi bersifat konstruktif: ia muncul setelah ada objek atau tindakan yang sudah terbentuk dan dilaksanakan (bukan pada tahap perencanaan awal murni, yang lebih merupakan visi atau desain), karena tugasnya adalah perbaikan dan penyempurnaan berdasarkan realitas yang ada. Di sini ada tempat untuk dialog harmonis dan saran positif. Kritik yang dicampur dengan unsur evaluasi kehilangan karakter murninya dan menjadi sinkretisme kritik.Demikian pula dengan pelaku kritik. Kritik murni—yang benar-benar menghancurkan kesalahan tanpa kompromi—hampir eksklusif dilakukan oleh pihak eksternal. Pihak eksternal tidak terikat oleh loyalitas, akses, atau kebutuhan menjaga harmoni internal. Mereka bebas menyengat tanpa filter, dan itulah yang membuat kritik mereka autentik dan berwibawa.Pihak internal, meskipun bisa mengkritik, hampir selalu terjebak dalam dinamika kepentingan. Kritik dari dalam cenderung dilunakkan, berubah menjadi saran halus, atau “mari kita perbaiki bersama”—yaitu evaluasi yang menyamar. Kritik internal yang tetap tajam dan tanpa kompromi jarang bertahan lama; sistem biasanya menetralkannya.Dengan pemisahan ini, kita bisa menjaga kritik tetap sebagai pisau tajam yang tidak tumpul demi kenyamanan siapa pun. Kritik bukan evaluasi yang lebih keras. Kritik adalah proses penghancuran yang harus selesai dulu, baru kemudian evaluasi membangun dari reruntuhan yang ditinggalkannya.Di tengah tuntutan agar kritik “sopan”, “konstruktif”, dan “bertanggung jawab”, kita perlu diingatkan: tuntutan itu sering kali bukan upaya mencari kebenaran, melainkan mekanisme untuk melindungi status quo. Kritik sejati tidak pernah sopan kepada kesalahan. Ia harus mengganggu—karena hanya dengan mengganggu, ia bisa mengubah.(Karya ini ditulis pada 17 Januari 2026, di tengah gelombang perdebatan pasca-Mens Rea dan penerapan aturan hukum baru yang semakin membatasi ruang kritik). Penulis (Muhammad Prihatno)

5 bulan yang lalu
visibility 77 chat_bubble 0
News Image
Budaya

DUNIA AZAM ; BACALAH DENGAN NAMA TUHANMU

Bengkulu - Meeja Metro Update | Aktivitas "BACA" merupakan aktivitas fundamental yang, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, mampu memaksimalkan fungsi otak manusia. Proses ini mengaktifkan sel-sel saraf secara optimal, sehingga mempermudah manusia dalam menjalani berbagai aktivitas kehidupan. Perintah “Baca” dalam konteks ini tidak terbatas pada teks tertulis semata, melainkan mencakup pula segala hal yang “tidak tertulis”—yakni realitas sosial, budaya, sejarah, dan dinamika kehidupan yang tersirat di balik fenomena sehari-hari.Membaca secara mendalam dan luas menjadi benteng utama untuk menghindari sikap literal-skripturalis yang kaku, penghakiman hitam-putih yang sempit, kemiskinan perspektif, serta kegagapan dalam menyikapi progresivitas peradaban kemanusiaan. Lebih dari itu, membaca menuntut kehalusan budi dan kejujuran intelektual agar terhindar dari jebakan “halo effect”—kecenderungan menilai sesuatu secara keseluruhan berdasarkan kesan awal yang dangkal.Bacalah dengan nama Tuhanmu…Ungkapan ini mengingatkan bahwa membaca bukan sekadar aktivitas intelektual biasa, melainkan ibadah yang mendalam dan transformatif. Membaca menjadi fondasi utama dalam mengembangkan serta merevitalisasi tradisi intelektual. Sepanjang sejarah peradaban, tradisi intelektual inilah yang berperan sebagai penggerak utama perubahan sosial. Tradisi ini pula yang membentuk pola gerak kehidupan beradab, menentukan arah nilai, etika, dan visi kolektif suatu masyarakat.Namun, di era kontemporer, tradisi intelektual mulai melemah dan “melumer” akibat terjebak dalam banjir “wacana pendek” yang dibawa oleh tsunami media sosial. Fenomena ini sungguh merupakan kerugian besar bagi peradaban manusia. Bahkan lebih berbahaya lagi jika “wacana pendek” tersebut akhirnya bertransformasi menjadi tradisi baru yang menggantikan kedudukan tradisi intelektual secara permanen—menghasilkan budaya instan, dangkal, dan anti-refleksi.Memang benar bahwa zaman terus berubah, dan kini millenialisme (atau millennialisme dalam konteks generasi dan budaya digital) telah menjadi arus utama perubahan teranyar. Namun, justru di sinilah letak tantangan sekaligus peluang: tradisi intelektuallah yang seharusnya menjadi pewarna dominan dalam arus millenialisme ini. Bukan menyerah pada dangkalnya wacana pendek, melainkan mewarnai, membentuk, dan mengarahkan millenialisme menuju bentuk yang lebih bermartabat.Dengan semangat tersebut, Azam mengusulkan konsep baru: Tradisi Intelektual Millenialistik.Ini bukan sekadar kompromi antara tradisi lama dan zaman baru, melainkan sintesis yang sadar—di mana kedalaman intelektual, kejujuran berpikir, dan keluasan perspektif tetap menjadi inti, sementara medium dan kecepatan zaman millenial (digital, cepat, visual, interaktif) dijadikan alat, bukan tujuan. Tradisi ini diharapkan melahirkan pola baru peradaban: intelektual yang relevan dengan zaman, kritis namun inklusif, mendalam namun dapat diakses, reflektif namun responsif terhadap perubahan.Dengan demikian, millenialisme Azam bukanlah penolakan terhadap zaman, melainkan penegasan bahwa tradisi intelektual harus tetap hidup dan berkuasa di tengah arus perubahan. Ia adalah panggilan untuk membaca dunia—yang tertulis maupun yang tidak tertulis—dengan nama Tuhan, demi melahirkan peradaban yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga beradab secara intelektual dan spiritual.Semoga Tradisi Intelektual Millenialistik ini menjadi warisan yang terus direvitalisasi, bukan hanya oleh generasi millenial, tetapi oleh setiap insan yang masih percaya bahwa membaca adalah kunci kemuliaan umat manusia. Penulis (Muhammad Prihatno)#Azamik#Latihan_berpikir

5 bulan yang lalu
visibility 80 chat_bubble 0
News Image
Budaya

Desa Tanjung Baru Kaur Gelar Pagelaran Seni Budaya Tari Tradisional sangat Meriah

Kaur | Meeja Media Update - Desa Tanjung Baru, Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur, melaksanakan pagelaran seni budaya tari tradisional sangat meriah pada hari Minggu, 21 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII (Bengkulu-Lampung) yang bertujuan untuk mendukung, memperkuat ekosistem kebudayaan serta mendorong pengembangan ekspresi budaya dari para penggerak budaya.Meki Elyantoni, S.Pd, Perwakilan dari BPK Wilayah VII (Bengkulu-Lampung) dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berperan aktif dalam kegiatan ini. "Program bantuan Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) ini merupakan salah satu wujud komitmen Kementerian Kebudayaan dalam mendukung kreativitas, inovasi, dan keberlanjutan praktik budaya di masyarakat," ujarnya.Meki Elyantoni, S.Pd, juga menekankan pentingnya pelestarian kebudayaan bangsa. "Bantuan ini bukan hanya sebatas dukungan finansial, tetapi juga sebagai dorongan agar ekosistem kebudayaan dapat tumbuh dan berkembang, sehingga warisan budaya bangsa dapat terus lestari sekaligus memberi manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat," tambahnya.Dalam kesempatan ini, Meki Elyantoni, S.Pd, juga menyaksikan penampilan tujuh tarian tradisional khas Desa Tanjung Baru, yaitu tari setangan, tari sasar, tari mabuk, tari adau-adau, tari kecik, tari selendang, dan tari pencak. Selain itu, juga ada pertunjukan ngerinik kuin, ingit-ingit, hingga hadra atau sederean.Meki Elyantoni, S.Pd, berharap bahwa kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi perkembangan kebudayaan kita, serta menjadi langkah nyata dalam menjaga identitas dan jati diri bangsa. "Mari kita terus bersinergi, bekerja bersama, dan berkomitmen untuk menjadikan kebudayaan sebagai nafas pembangunan bangsa," pungkasnya.

6 bulan yang lalu
visibility 204 chat_bubble 1